Sore di Kuta Mandalika, Lombok NTB

 


Menginjakkan kaki di tanah Lombok pertama kali untuk saya merupakan momen yang tak terlupakan. Waktu itu Februari 2020 sebelum COVID 19 mulai meluas di Indonesia, kebetulan dapat tugas dinas hampir seminggu di Lombok. 

Entah kesan pertama saya di Lombok, suasananya hangat seperti di Yogya, berbukit tapi banyak pantai, jalannya yang bekelok, tidak terlalu ramai seperti tetangganya, yaitu Bali, ditambah warganya yang masih ramah dan hangat.




Saya menginap di D’Praya Hotel, di Kabupaten Lombok Tengah waktu itu, karena kebetulan setelah agenda besar pimpinan, kita ada kegitan kantor di hotel itu selama 3 hari.  

Dan saya akhirnya memutuskan untuk extend di Lombok. 

Sore setelah kegiatan waktu itu, saya bersama 2 fasilitator yang merupakan dosen UGM dan Universitas Kupang, ditemani 1 teman dari German yang membantu project kami selama di Lombok berencana untuk mengunjungi pantai. 2 teman kantor saya kurang suka berwisata dan lebih memilih tidur ketika  itu. Long story short, kami berempat memutuskan untuk ke pergi ke Pantai Kuta Mandalika.  Pantai yang cukup dekat dari hotel. Siapa yang tidak tau Pantai Kuta Mandalika, pantai yang cukup terkenal kalau kita singgah di Lombok, karena tempatnya yang cukup gampang dikunjungi.

Waktu itu kami naik mobil ojek online, kami belum tau apa apa waktu itu, kami pikir aman aman saja hahahaha.

Kami berkeliling di Pantai Kuta Mandalika yang saat itu memang sudah sore dan menjelang senja. Buat saya, its perfect time to enjoy the beach. Menikmati senja di pantai adalah sebuah kenikmatan.

Tipikal Pantai Kuta Mandalika ini kalau menurut saya, pantai yang memang sudah didesain untuk dikunjungi, bahkan sudah ada tulisan yang sangat besar bertuliskan “KUTA MANDALIKA” yang memang ditunjukkan untuk wisatawan berfoto disana.


Penjual juga sangat banyak disana, dari yang mulai di ruko, warung, sampai yang berkeliling menjajakkan dagangannya. Apa yang dijual? Banyak sekali, kalau yang berada di toko atau warung kebanyakan kain khas Lombok, dompet, tas, baju pantai, dress pantai. Untuk yang pedagang yang bekeliling, mereka gak jauh beda, menjajakkan kain dan segala oleh oleh khas Lombok, cuma minus daster atau dress pantai saja.

Menarik banget si fenomena penjual yang bekeliling ini, hampir 100 persen penjualnya itu perempuan, bahkan saya pernah lihat anak – anak juga, tapi berjualan gelang. Untuk beberapa orang yang gak tegaan seperti saya, pasti sulit untuk menolak mereka. Tapi masalahnya, mereka jumlahnya banyak, dan tiap lima lagkah kalian, pasti ditawari oleh pedagang yang berbeda dan dagangannya sama. Itu juga saya datangnya sore, bagaimana kalau pagi atau siang, pasti lebih banyak lagi.

Sempat terpikir juga di otak saya, kenapa semuanya perempuan, kenapa tidak suaminya saja. Mungkin suaminya kerja melaut, dan istrinya yg membantu bejualan? Banyak pertanyaan yang menghampiri, ditambah kenapa ini anak – anak juga ikut membantu berjualan, kenapa tidak bersekolah, kenapa tidak bermain saja.




Walaupun cukup menganggu kekhidmad an saya menikmati senja di Kuta Mandalika, saya menyimpan kekaguman pada perempuan – perempuan hebat penjual kain di Kuta Mandalika ini. Dagangan mereka ini bukannya tidak berat, berpuluh puluh kain dan barang lainnya mereka bawa dan berkeliling di sepanjang pantai, setiap mereka melihat ada wisatawan, mereka langsung menghampiri. Ketangguhan dan tidak pantang menyerah sekali sepertinya. Dibalik stereotipe perempuan harusnya di rumah saja mengurus dapur, mengasuh anak, tapi melihat kegigihan mereka, sepertinya itu tidak berlaku disini.

Saya pun luluh, akhirnya membeli kain dan beberapa dompet untuk saya berikan pada teman dan orangtua di rumah. Kebetulan hobi saya juga mengumpulkan kain dari daerah – daerah yang saya kunjungi. Walaupun saya tau, kain ini bukan yang kualitas bagus, setidaknya sekarang bisa saya manfaatkan jadi cover sofa di apartemen.


Hari mulai malam dan puas menikmati pantai, kami memutuskan untuk mencari makan disekitar pantai, tapi karena teman saya yang dari German ini berkantor di dekat pantai ini, dia merekomendasikan makan di foodcourt di dekat kantor nya. Jangan dibayangkan makanan khas Lombok, namanya juga makanan foodcourt, seperti kantin lah. Tapi bersyukurnya tidak terlalu mahal lah untuk ukuran makanan di tempat wisata.

Setelah kenyang makan dan berbincang banyak, kita memutuskan untuk pulang. Kita mencoba membuka aplikasi ojek online, berniat memesan untuk kembali ke hotel. Tapi oh tapi, tidak semudah itu. Ternyata disini daerah wisata memang zona merah untuk penjemputan ojek online. Tapi kenapa tadi bisa diantar sampai sini. Bisa, kalau hanya menurunkan penumpang memang bisa, tapi tidak bisa untuk menjemput di lokasi wisata. Mereka lebih banyak memprioritaskan layanan travel local dan transportasi penduduk setempat. Cukup logis dan bisa dipahami, memang kita saja yang kurang riset.

Cukup bingung waktu itu, karena jaraknya yang tidak dekat dengan hotel. Untung, ketika berangkat kita sempat meminta nomor driver yang mengantar kita, kalau saja membutuhkan. Kita coba untuk mengontak driver tersebut, tapi memang kami masih harus diminta lebih lama mengobrol. Driver yang mengantar kita sudah di Mataram dan jaraknya sudah terlalu jauh dari lokasi kita. Tapi waktu itu, kita diberikan nomor temannya yang dekat dengan lokasi kita dan memungkinkan untuk menjemput kita.  

Kita akhirnya menunggu driver yang tenyata tidak sebentar dengan berjalan kaki mencari tempat yang lebih tidak membingungkan untuk driver. Kita putuskan menunggu di pos ronda, yang lebih mirip seperti rumah adat. Sudah hampir satu jam kita menunggu, dan hujanpun turun. Yang membuat tetap hangat hanya obrolan kami dengan sedikit canda tawa menertawakan keadaan dan kebodohan kami waktu itu.

Sedikit tips untuk yang akan berwisata di Lombok, sewa travel atau sewa mobil saja. Bagus lagi kalau bawa mobil sendiri. Kalau tidak ingin terjebak seperti kami hehehehe.

Cerita tentang pantai lain di Lombok, sepertinya akan saya ceritakan di tulisan selanjutnya. 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Menuju Kilau Meliau: Sebuah Perjalanan menuju Desa Melawi Makmur, Kecamatan Meliau, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat

Pendidikan Hak Setiap Warga Negara? : Sebuah Potret Pendidikan di Desa Melawi Makmur, pedalaman Kalimantan Barat.

Penyesalan ?