Sore di Kuta Mandalika, Lombok NTB
Entah kesan pertama saya di Lombok, suasananya hangat seperti di Yogya, berbukit tapi banyak pantai, jalannya yang bekelok, tidak terlalu ramai seperti tetangganya, yaitu Bali, ditambah warganya yang masih ramah dan hangat.
Dan saya akhirnya memutuskan untuk
extend di Lombok.
Sore setelah kegiatan waktu
itu, saya bersama 2 fasilitator yang merupakan dosen UGM dan Universitas Kupang,
ditemani 1 teman dari German yang membantu project kami selama di Lombok
berencana untuk mengunjungi pantai. 2 teman kantor saya kurang suka berwisata
dan lebih memilih tidur ketika itu. Long
story short, kami berempat memutuskan untuk ke pergi ke Pantai Kuta Mandalika. Pantai yang cukup dekat dari hotel. Siapa
yang tidak tau Pantai Kuta Mandalika, pantai yang cukup terkenal kalau kita
singgah di Lombok, karena tempatnya yang cukup gampang dikunjungi.
Waktu itu kami naik mobil ojek online,
kami belum tau apa apa waktu itu, kami pikir aman aman saja hahahaha.
Kami berkeliling di Pantai Kuta Mandalika
yang saat itu memang sudah sore dan menjelang senja. Buat saya, its perfect
time to enjoy the beach. Menikmati senja di pantai adalah sebuah kenikmatan.
Tipikal Pantai Kuta Mandalika ini
kalau menurut saya, pantai yang memang sudah didesain untuk dikunjungi, bahkan
sudah ada tulisan yang sangat besar bertuliskan “KUTA MANDALIKA” yang memang
ditunjukkan untuk wisatawan berfoto disana.
Penjual juga sangat banyak disana,
dari yang mulai di ruko, warung, sampai yang berkeliling menjajakkan dagangannya.
Apa yang dijual? Banyak sekali, kalau yang berada di toko atau warung kebanyakan
kain khas Lombok, dompet, tas, baju pantai, dress pantai. Untuk yang pedagang
yang bekeliling, mereka gak jauh beda, menjajakkan kain dan segala oleh oleh khas
Lombok, cuma minus daster atau dress pantai saja.
Menarik banget si fenomena penjual
yang bekeliling ini, hampir 100 persen penjualnya itu perempuan, bahkan saya
pernah lihat anak – anak juga, tapi berjualan gelang. Untuk beberapa orang yang
gak tegaan seperti saya, pasti sulit untuk menolak mereka. Tapi masalahnya,
mereka jumlahnya banyak, dan tiap lima lagkah kalian, pasti ditawari oleh pedagang
yang berbeda dan dagangannya sama. Itu juga saya datangnya sore, bagaimana
kalau pagi atau siang, pasti lebih banyak lagi.
Sempat terpikir juga di otak
saya, kenapa semuanya perempuan, kenapa tidak suaminya saja. Mungkin suaminya kerja
melaut, dan istrinya yg membantu bejualan? Banyak pertanyaan yang menghampiri,
ditambah kenapa ini anak – anak juga ikut membantu berjualan, kenapa tidak
bersekolah, kenapa tidak bermain saja.
Walaupun cukup menganggu kekhidmad
an saya menikmati senja di Kuta Mandalika, saya menyimpan kekaguman pada
perempuan – perempuan hebat penjual kain di Kuta Mandalika ini. Dagangan mereka
ini bukannya tidak berat, berpuluh puluh kain dan barang lainnya mereka bawa
dan berkeliling di sepanjang pantai, setiap mereka melihat ada wisatawan,
mereka langsung menghampiri. Ketangguhan dan tidak pantang menyerah sekali
sepertinya. Dibalik stereotipe perempuan harusnya di rumah saja mengurus dapur,
mengasuh anak, tapi melihat kegigihan mereka, sepertinya itu tidak berlaku disini.
Saya pun luluh, akhirnya membeli kain
dan beberapa dompet untuk saya berikan pada teman dan orangtua di rumah. Kebetulan
hobi saya juga mengumpulkan kain dari daerah – daerah yang saya kunjungi. Walaupun
saya tau, kain ini bukan yang kualitas bagus, setidaknya sekarang bisa saya
manfaatkan jadi cover sofa di apartemen.
Hari mulai malam dan puas
menikmati pantai, kami memutuskan untuk mencari makan disekitar pantai, tapi
karena teman saya yang dari German ini berkantor di dekat pantai ini, dia merekomendasikan
makan di foodcourt di dekat kantor nya. Jangan dibayangkan makanan khas Lombok,
namanya juga makanan foodcourt, seperti kantin lah. Tapi bersyukurnya tidak
terlalu mahal lah untuk ukuran makanan di tempat wisata.
Setelah kenyang makan dan
berbincang banyak, kita memutuskan untuk pulang. Kita mencoba membuka aplikasi
ojek online, berniat memesan untuk kembali ke hotel. Tapi oh tapi, tidak semudah
itu. Ternyata disini daerah wisata memang zona merah untuk penjemputan ojek
online. Tapi kenapa tadi bisa diantar sampai sini. Bisa, kalau hanya menurunkan
penumpang memang bisa, tapi tidak bisa untuk menjemput di lokasi wisata. Mereka
lebih banyak memprioritaskan layanan travel local dan transportasi penduduk setempat.
Cukup logis dan bisa dipahami, memang kita saja yang kurang riset.
Cukup bingung waktu itu, karena
jaraknya yang tidak dekat dengan hotel. Untung, ketika berangkat kita sempat
meminta nomor driver yang mengantar kita, kalau saja membutuhkan. Kita coba
untuk mengontak driver tersebut, tapi memang kami masih harus diminta lebih
lama mengobrol. Driver yang mengantar kita sudah di Mataram dan jaraknya sudah terlalu
jauh dari lokasi kita. Tapi waktu itu, kita diberikan nomor temannya yang dekat
dengan lokasi kita dan memungkinkan untuk menjemput kita.
Kita akhirnya menunggu driver yang
tenyata tidak sebentar dengan berjalan kaki mencari tempat yang lebih tidak
membingungkan untuk driver. Kita putuskan menunggu di pos ronda, yang lebih
mirip seperti rumah adat. Sudah hampir satu jam kita menunggu, dan hujanpun
turun. Yang membuat tetap hangat hanya obrolan kami dengan sedikit canda tawa menertawakan
keadaan dan kebodohan kami waktu itu.
Sedikit tips untuk yang akan
berwisata di Lombok, sewa travel atau sewa mobil saja. Bagus lagi kalau bawa
mobil sendiri. Kalau tidak ingin terjebak seperti kami hehehehe.
Cerita tentang pantai lain di Lombok, sepertinya akan saya ceritakan di tulisan selanjutnya.





Komentar
Posting Komentar