Jalan Menuju Kilau Meliau: Sebuah Perjalanan menuju Desa Melawi Makmur, Kecamatan Meliau, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat

Tepat setahun lalu, di tanggal ini saya pergi meninggalkan tanah Jawa untuk pergi sebentar melihat Kalimantan.

Pengabdian, begitu orang menyebut kegiatan saya bersama ribuan mahasiswa Gadjah Mada lainnya yang menjelajah Indonesia untuk mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkan di bangku kuliah. Salah satu dari Tri Dharma Perguruan tinggi yang memang harus dituntaskan oleh setiap mahasiswa Gadjah Mada.
Kuliah Kerja Nyata.

Ini merupakan satu dari beberapa hal yang paling saya impikan ketika masuk kuliah, selain demo (walaupun akhirnya demo yang saya lakukan hanya ecek – ecek).

Sempat mendaftar untuk KKN di Banda Neira, namun ditolak oleh pencetus kelompok, akhirnya saya menemukan kelompok KKN di Desa Melawi Makmur, Kecamatan Meliau, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Dulu saya kira, lokasinya di perbatasan Indonesia, ternyata masih lumayan jauh dari perbatasan Indonesia Malaysia.

Pertama menginjakkan kaki di Kalimantan, satu kata PANAS. Daerah garis khatulistiwa, sudahlah pasti panasnya tak kira – kira. Malampun masih terasa panas, dan lengket di badan. Untuk saya yang memang anak pesisir utara Jawa, hal ini tak menjadi masalah besar. Sudah terbiasa dengan panas menyengat tak kira-kira.

Perjalan saya menuju Dusun tempat saya tinggal waktu itu cukup panjang. Setelah perjalanan menggunakan pesawat ke Pontianak, saya dan teman-teman singgah semalam di Pontianak. Saya bersama 27 anggota KKN KTB 06, bermalam di salah satu rumah anggota yang lumayan menampung 27 anak. Buka puasa, sahur, taraweh, main kartu, dan tinggal bersama 27 anggota untuk pertama kalinya. Awal bersua, aku suka mereka. Walaupun banyak yang aneh, tapi saya juga aneh mungkin bagi mereka.

Setelah bermalam di Pontianak, saya dan Tim KKN KTB 06 memulai perjalanan ke Kabupaten Sanggau. Kami menyewa bus berukuran sedang tanpa AC yang penuh dengan barang-barang bawaan kami yang luar biasa banyak. Sesampainya di Kabupaten Sanggau, kita disambut bersama 3 Tim KKN lain yang berada di Kabupaten Sanggau untuk mengikuti upacara penyambutan mahasiswa KKN. Tidur semalam di Sanggau, hari berikutnya kami memulai perjalanan yang sebenarnya menuju Desa Melawi Makmur. Sejauh mata memandang, hanya ada pemandangan hutan-hutan, kadang tanah gersang ataupun hamparan kebun kelapa sawit. Sungguh panas waktu itu, ditambah kami masih harus berdesakan bersama barang bawaan di dalam bus tak berAC.


 Keadaan di dalam bus saat perjalanan dari Kabupaten Sanggau menuju Kecamatan Meliau. 
Dok. Pribadi/ Eropania Tiara Wardoyo


Setelah berjam-jam berada di dalam bus, sampailah kami di Kecamatan Meliau, disambut dan diupacarakan lagi. Beberapa jam saja kami di kantor kecamatan, istirahat, upacara, dan beralih transportasi dengan truk menuju penyebrangan. Tak jauh dari kantor Kecamatan Meliau, perjalanan kami sungguh menegangkan. Di dalam truk, kami hampir gila, 20 orang di atas truk yang biasanya pengangkut sawit, terik di siang hari, dan melewati jalanan yang tak beraspal, semua tanah berbatu. Sejauh mata memadang hanya hamparan pohon kelapa sawit. Bertahun-tahun saya naik truk untuk kegiatan di sekolah maupun di kampus, ini medan tergila yang pernah saya lalui.

Tak lama menikmati perjalanan bertabur panorama kebun kepala sawiit, tibalah di penyebrangan menuju desa, kami menunggu kapal penyebrangan di pinggir sungai kapuas. Sore waktu itu, belum senja tapi sudah indah. Kami menunggu kapal feri yang besarnya bahkan sanggup mengangkut truk dengan mengagumi sungai kapuas. Sungguh, hanya sungai dengan air coklat, tapi menawan. Ada mitos disana ketika datang dan mencuci muka dengan air kapuas, maka kau akan akan terus kembali kesini. Hampir saja saya melakukannya.

Kami masih di tepian sungai kapuas, di penyebrangan menuju desa Melawi Makmur. Menunggu beberapa kawanan tim lelaki yang bertugas membawa barang bawaan kami menggunakan truk. Kami memang terpisah dua truk, satu truk khusus untuk barang dan beberapa lelaki, satu truk sisanya untuk para tim wanita dan lelaki yang hanya beberapa biji.

Penyeberangan menuju Desa Melawi Makmur
Dok. Pribadi

Setelah semua berkumpul, kami beserta truk naik kapal feri. Diujung sudah ada warga desa yang menyambut, menghantarkan kita di desa Melawi Makmur. Perjalanan masih berlanjut.

Setelah mengatur posisi barang dan manusia dalam satu truk, kami memulai perjalanan sore menuju desa. Saya selalu berada di posisi depan, penjaga barang-barang bawaan katanya, sebenarnya agar bisa bersender di tumpukan tas saat lelah. Medan tempuh tak jauh beda dari sebelumnya, tanah merah berbatu, tak beraspal, kadang licin sisa hujan semalam, dan  hamparan pohon kelapa sawit. Sudah hampir muntah, pusing tak terkira kami dibuatnya, apalagi saat itu bulan ramadhan dan sebagian besar dari kami menjalani ibadah puasa. Saya pribadi, mungkin karena saya merasa banyak teman menjalaninya ya senang-senang saja. Toh di perjalanan saya mengobrol random dengan anggota yang memang satu frekuensi. Sesekali tim KKN harus menundukkan kepala dan saling berteriak saat ada ranting pohon menjalar atau daun kepala sawit yang terpaksa harus truk terbas. Sebagian besar perjalanan kami lewati hutan, kanan kiri kami hutan, sepi, dan hampir senja. Menegangkan tapi menyenangkan. Sungguh.



Perjalanan menggunakan truk menuju Desa Melawi Makmur.
Dok, Pribadi/Annisa Hanum Baiduri

Saat malam mulai tiba, di dalam truk di tengah hutan, kami memutuskan untuk menghentikan truk dan berbuka puasa. Hanya ada air mineral dua kardus untuk 28 orang dan snack kecil seadaanya di tas yang bisa dijangkau. Kami tak bisa berlama-lama, hari sudah petang dan kami harus melanjutkan perjalanan menuju desa. Akhirnya, kami melanjutkan perjalanan,namun tiba – tiba truk terhenti, saya lega mungkin sudah sampai. Ternyata hanya mampir sejenak bertemu Dosen Pembimbing Lapangan yang memang sudah sebulan di desa ini. Kami sempat disuguhi kerupuk khas, dan teh hangat, ada tuak tentunya. Saya tak berani meminumnya, belum berani tepatnya.

Setelah mengobrol seperlunya dengan Dosen Pembimbing Lapangan di salah satu rumah warga di daerah Kunyil, desa sebelum desa tempat kami mengabdi, kami melanjutkan perjalanan. Sekitar dua jam dari penyebrangan, akhirnya kita sampai di Desa Melawi Makmur. Kami langsung disambut di Dusun Nek Sawak, dusun dimana saya tinggal. Desa Melawi Makmur tujuan pengabdian kami terdiri dari 3 dusun, yaitu dusun Nek Sawak, Landau, dan Suak Mansi. Kami ber 28 pun dibagi menjadi 3 kelompok subunit masing-masing 9 anggota di setiap dusun. Saya bersama 8 anggota lainnya, tinggal dan mengabdi di Dusun Nek Sawak untuk waktu dua bulan.  Perjalanan selanjutnya hidup saya berada dua bulan di Dusun Nek Sawak.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan Hak Setiap Warga Negara? : Sebuah Potret Pendidikan di Desa Melawi Makmur, pedalaman Kalimantan Barat.

Penyesalan ?