Pendidikan Hak Setiap Warga Negara? : Sebuah Potret Pendidikan di Desa Melawi Makmur, pedalaman Kalimantan Barat.
Pendidikan
merupakan kunci dalam pembangunan kemajuan suatu bangsa. Majunya suatu bangsa,
biasanya juga dibarengi dengan majunya pendidikan bangsa tersebut. Terlebih
lagi, pendidikan merupakan hak yang wajib diperoleh oleh semua warga negara di
Indonesia, hal tersebut jelas termaktub dalam UUD 194 pasal 31 ayat 1 yang berbunyi “Setiap warga negara
berhak memperoleh pendidikan”. Setiap warga negara, tanpa terkecuali, tidak
memandang suku, ras, dan agama. Siapapun berhak memperoleh pendidikan yang
layak apapun agamanya, apapun sukunya, baik di desa maupun di kota. Namun pada
kenyataannya, masalah pendidikan masih kurang merata di Indonesia, tidak semua
daerah di Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak. Pendidikan sepertinya
hanya terpusat di Jawa dan kota – kota besar lainnya. Namun, jangan ditanya
bagaimana pendidikan Indonesia di pulau – pulau selain Jawa.
Seperti
yang terlihat pada potret pendidikan di pedalaman pulau Kalimantan, Desa Melawi
Makmur Kecamatan Sanggau, Kalimantan Barat. Daerah yang hanya memakan waktu 3
jam dari perbatasan Indonesia Malaysia ini, hanya mempunyai satu fasilitas
belajar yaitu Sekolah dasar yaitu SD N 11 Nek
Sawak dan SD N Suak Mansi. Dua sekolah dasar di Desa ini, sangat jauh
dari kata layak, fasillitas sekolahnya, jumlah gurunya, buku – buku penunjang
pelajarannya. Sekolah yang nyaman, guru yang memadai, fasilitas yang layak,
mungkin masih jauh yang harusnya sama diterima oleh seluruh sekolah di Indonesia
nyatanya masih isapan jempol di daerah ini.
SD N 11 Nek Sawak
Dok.Pribadi/ Gendis Yayi K
Dalam
pendidikan terdapat beberapa hal yang menjadi komponen, yaitu peserta didik,
tenaga pendidik, sarana prasarana pendidik, serta yang paling penting adalah
kurikulum.
Apabila
dilihat dari segi fasilitas, di SD N 11 Nek Sawak, sekolah dasar yang terletak
di Dusun Landau, Desa Melawi Makmur ini, memiliki siswa lebih dari 100 yang
terbagi dari kelas 1 sampai kelas 6. Dengan jumlah murid yang lebih dari 100
anak, sekolah dasar ini hanya memiliki fasilitas bangku dan kursi yang 75% dari jumlah murid yang ada. Hal ini
membuat murid sering berebut kursi dan bangku ketika tahun ajaran baru, atau
bahkan memilih untuk tidak berangkat sekolah. Di Sekolah dasar ini, jangankan kita
melihat lantai keramik bersih dengan dinginnya AC. Bahkan urusan primer,
seperti bangku untuk duduk anak – anak, mereka masih kekurangan. Satu bangku
bisa untuk 3 sampai 4 siswa. Selain itu, media belajar yang masih menggunakan
papan tulis dan kapur. Tidak hanya fasilitas yang kurang memadai, guru yang
mengajar di sekolah dasar tersebut hanya 6, kelas 1 sampai 3, hanya masing–masing
satu guru yang menangani. Sedangkan, kelas 4, 5 dan 6 terbagi menjadi guru IPA,
Matematika, IPS, dan mata pelajaran lainnya yang menangani kelas 4, 5, dan 6. Dari
6 guru yang ada di SD N 11 Nek Sawak tersebut, hanya 3 guru yang berstatus
sebagai PNS, selebihnya hanya warga Desa yang
tergerak hatinya untuk mengajar
calon-calon penerus bangsa di Desa Mereka. Tenaga pengajar yang hanya 6 orang,
namun sering absen dari tugasnya untuk mengajar. Hal ini membuat murid – murid
sering dibubarkan karena guru tidak datang. Selain masalah tenaga pengajar,
masalah utama murid – murid di Sekolah Dasar ini adalah masih seringnya angka
tinggal kelas di sekolah dasar ini. Seperti yang terjadi pada jenjang kelas 2
di sekolah ini, dari 18 murid yang ada yang naik kelas hanya 2 murid. Waktu
normal anak menjalani Sekolah Dasar yang biasanya hanya 6 tahun, anak - anak
Desa Melawi Makmur rata – rata menghabiskan waktu di sekolah dasar 8 sampai 9
tahun. Ada banyak faktor seperti angka kehadiran yang kurang maupun kemampan
yang memang tidak memenuhi kriteria kenaikan kelas. Namun, apabila dilihat dari
besarnya jumlah murid yang tinggal kelas daripada yang naik kelas, cukup
menjadi pertanyaan besar apakah murid yang tidak mampu, atau guru yang kurang
mampu menggali potensi dan kemampuan anak.
Keadaan Kelas di SD N 11 Nek Sawak
Sedangkan
di SD N Suak Mansi yang terletak di Dusun Suak Mansi di Desa Melawi Makmur, mempunyai
murid yang sangat sedikit. Masing–masing kelas rata-rata berjumlah 12 orang. Tak jarang dua kelas terpaksa
dijadikan satu kelas yang hanya disekat oleh papan. Tenaga pengajar yang berada
SD ini pun tidak jauh beda dengan SD N
11 Nek Sawak, hanya 6 guru, dengan mengajar masing – masing satu kelas.
Namun,
satu masalah yang sama dari kedua sekolah dasar tersebut adalah kurangnya
motivasi anak – anak di desa untuk atau melanjutkan sekolah yang lebih tinggi.
Tidak adanya Sekolah Menengah Pertama di Desa mereka, dan kurangnya dukungan
orang tua mereka untuk bersekolah lebih tinggi membuat anak – anak ini lebih
memutuskan untuk membantu orang tua mereka di ladang atau menjadi petani karet.
Padahal apabila dilihat, pendapatan rata–rata masyarakat Desa Melawi Makmur
yang notabene petani karet dan kelapa
sawit, lebih dari cukup untuk membiayai anak bersekolah. Namun, kurangnya
pengetahuan pentingnya bersekolah lebih tinggi, dan kurangnya fasilitas pendidikan yang memadai
di desa membuat orang tua kurang
mendukung anaknya untuk bersekolah lebih tinggi. Dari segi anak, cukup
wajar apabila mereka tidak mampu dan tidak mau untuk melanjutkan sekolah. Usia
yang masih rata – rata 13 atau 14 tahun, harus berpisah dengan orang tua, tinggal
di asrama atau indekos untuk melanjutkan Sekolah Menengah Pertama memanglah
tidak mudah dijalani, terlebih usia mereka yang masih sangat muda untuk keluar
dari rumah dan meninggalkan orang tua. Padahal, kemampuan anak–anak Desa Melawi
Makmur ini tidak kalah dengan kemampuan anak–anak di kota lainnya. Hal ini
terbukti dari, ketika mahasiswa yang melakukan program KKN memberikan pelajaran
tambahan kepada anak-anak di Dusun Nek Sawak, anak–anak Dusun Nek Sawak
terbilang mudah menangkap pelajaran yang diberikan oleh mahasiswa–mahasiswi.
Selain itu, ketika ditanya mengenai cita–cita dan impian mereka, sungguh diluar
dugaan impian dan cita–cita yang mereka
ungkapkan.
“Saya
mau jadi profesor kak”
“Kalau
saya mau jadi dokter kak, biar bisa bikin rumah sakit di Dusun Nek Sawak ini”
Namun,
lagi–lagi karena keterbatasan fasilitas pendidikan lanjutan di Desa tersebut
membuat impian–impian mereka hanya terkubur begitu saja.
Siswa Nek Sawak menuliskan impian mereka dalam Dream Board
Dok. Pribadi/ Gendis Yayi
Seperti
pesan yang sering diucapkan oleh warga desa ketika kami, para mahasiswa untuk
ketika sukses jangan melupakan Desa Melawi Makmur. Kami jauh lebih ingin Desa ini
sendiri yang memiliki orang–orang sukses yang dapat membangun Desanya sendiri,
karena hanya orang Desa Melawi Makmur yang mengerti keadaan dan kebutuhan
desanya. Banyak sekali potensi alam, dan potensi – potensi lainnya yang ada di
Desa Melawi Makmur, seperti hutan yang masih sangat lebat, lahan karet dan
kelapa sawit yang tumbuh dengan subur, atau sungai yang masih sangat jernih
airnya dan mengandung emas. Namun dari semua itu, yang terpenting adalah
potensi sumber daya manusia karena merekalah yang nantinya akan mengolah dan
menentukan apakah menjadi pemilik seutuhnya atau hanya menjadi pekerja di desa
mereka sendiri. Semua itu tergantung dari manusianya dan pendidikanlah menjadi
kendaraan bagi itu semua. Kami yakin, anak–anak Desa Melawi Makmur mampu untuk
tidak hanya mewujudkan impian–impian besar mereka namun juga memajukan Desa
mereka sendiri. Namun juga dukungan dari pemerintah atau pihak lain juga sangat
penting berkaitan dengan pengadaan fasilitas pendidikan seperti, pengadaan
sekolah lanjutan di Desa ini. Bukankah pendidikan merupakan hak setiap warga
negara? Sudah sepantasnya pemerintah memfasilitasinya kan?

Komentar
Posting Komentar