Tentang Nona dan Asmara Berbalut Luka: Love yourself first, Nona!
Cinta memang memiliki
rasa ganda, kadang madu, kadang racun. Kadang manis, kadang pahit. Atau bahkan
terlalu manis hingga bisa menjadi pahit.
Sudahkan nona merasakan
cinta?
Bukankah kita terlahir
karena cinta?
Semakin beranjak besar,
nona pasti merasakan cinta, tak hanya cinta ayah bunda atau teman sebaya. Pun
cinta pada laki-laki juga akan kita rasakan.
Itu wajar.
Biologis katanya.
Bahkan menjadi tugas perkembangan remaja untuk mempersiapakan kehidupan perkawinan. Tak disangkal lagi, Tuhan bahkan menciptakan manusia berpasang- pasangan. Saling melengkapi, melindungi, dan menguatkan untuk berjalan bersama.
Biologis katanya.
Bahkan menjadi tugas perkembangan remaja untuk mempersiapakan kehidupan perkawinan. Tak disangkal lagi, Tuhan bahkan menciptakan manusia berpasang- pasangan. Saling melengkapi, melindungi, dan menguatkan untuk berjalan bersama.
Tapi apakah kita akan
bertemu laki-laki yang benar? Yang mencintai kita dengan benar?
Tidak selalu nona.
Kadang kita terjebak dalam asmara berbalut luka, nona bisa melihat ulasan ,lebih jauh di http://www.helpnona.com/mengenai-kekerasan-dalam-pacaran.html
Tapi tau siapa korbannya? Sebagian besar ya kita-kita ini. PEREMPUAN. WANITA. NONA.
Kadang kita terjebak dalam asmara berbalut luka, nona bisa melihat ulasan ,lebih jauh di http://www.helpnona.com/mengenai-kekerasan-dalam-pacaran.html
Tapi tau siapa korbannya? Sebagian besar ya kita-kita ini. PEREMPUAN. WANITA. NONA.
Banyak sekali cerita nona-nona
tak beruntung mengalami hal ini.
Beberapa teman juga banyak mengalami hal
ini, bahkan dalam keadaan masih berpacaran. Tak bisa lepas dari laki-laki yang
mengaku mencintainya tapi dengan mudah memukul, menampar bahkan menyeretkan ke
tanah. Laki-laki dengan dalih cinta mengatur apa yang boleh iya lakukan, apa
yang tidak boleh ia lakukan. Mengatur siapa yang boleh ia temui, siapa saja
yang tidak boleh ia temui.
Sehari ia bercerita
lelakinya baik padanya, sehari berikutnya ketika lelakinya naik pitam
dipukulnya, diseretnya, dimakinya seperti memaki anjing tetangga. Menyesallah
lelakinya keesokan hari, dibawakannya bunga dan dirancangnya makan malam
romantis, sungguh sangat manis mulutnya itu. Luluhlah sudah hati nona ini, dianggapnya
lelakinya khilaf belaka. Namun, sehari berikutnya ketika lelakinya naik pitam
ia melakukan hal yang sama. Marahlah dia, dipukulnya, lalu menyesal dan
mengemis minta maaf.
Hey ini siklus, Nona! Lingkaran
setan!
Konflik-Kekerasan-Minta
Maaf-Bulan Madu-Konflik-Kekerasan-Minta Maaf.......
Konflik
antara dua orang yang saling mencintai tidaklah dapat dihindari. Cinta mungkin
dapat menyatukan dua orang yang berbeda, namun konflik diantara mereka tidak
mungkin dapat dihindarkan. Konflik berarti mereka sedikit berlainan dalam
beberapa hal, dalam hubungan yang sehat, konflik diantara pasangan adalah hal
yang normal dan wajar. Sebenarnya, yang lebih penting bukanlah seberapa sering
dua sejoli beradu tengkar namun bagaimana mereka dapat menyelesaikan konflik dengan
saling dewasa, memahami bukan dengan kekerasan (Olson, 2011). Tak banyak orang
dapat menyelesaikan konflik dengan baik, kekerasan dianggap paling mudah untuk
menyelesaikannya. Apalagi budaya patriarki yang menempatkan laki-laki lebih kuat
dan berkuasa. Sehingga seperti wajar jika laki-laki mengakhiri konflik dengan
jalan kekerasan.
Ya
Nona, dibudaya kita yang masih kental patriarki ini, kita memang seakan-akan
diposisikan lebih rendah hampir dalam segala aspek. Seakan-akan pantas menerima
kekerasan.
Tapi
Nona, kita lebih berharga dari itu.
Kadang,
nona dan perempuan lainnya lupa untuk mencintai dirinya sendiri, memahami
betapa berharganya diri kita. Terhanyut asmara, mencintai lelakinya tanpa mencintai
dirinya sendiri. Banyak yang bahkan mengamini anggapan bahwa dirinya kaum nomor
dua setelah laki-laki, menganggap dirinya lemah.
Hey
nona, kita ini sama.
Kita
ini sesungguhnya dikaruniai otak yang sama, otot yang sama. Semua itu kita yang
tentukan menjadi lemah, menjadi kuat, menjadi bahagia atau menderita karena mengamini
kita ini lemah. Respect yourself, Nona. Love yourself first! Bukan narsis atau
egois. Tapi menghormati diri.
Cintailah
dirimu sebelum mencintai yang lainnya, Nona.
Referensi:
Olson,
D.H., DeFrain, J., and Skogrand, L. (2011).Marriages
and Families: Intimacy, Diversity, and Strengths, 7th Edition.
New York: McGraw-Hill

Komentar
Posting Komentar