Catatan Seorang Konselor


 “Relawan itu tak dibayar bukan karena tidak bernilai, tapi karena tidak ternilai.” – Anies Baswedan-

Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan relawan relawan dimanapun berada. Menjalani kehidupan sebagai relawan konselor psikologi di Rifka Annisa Women Crisist Center sejak akhir 2015 sampai tahun 2018 membuat saya merasa beruntung. Beruntung karena bisa banyak belajar dan berinteraksi dengan banyak orang yang membuat saya merasa sangat bersyukur dengan hidup saya.

Menjadi konselor psikologi di Rifka Annisa WCC berarti menjadi pendamping psikologis bagi Perempuan dan anak – anak korban Kekerasan berbasis gender. Tak sulit buat saya untuk memahami isu ini, karena ya saya perempuan, saya juga mengalami ketidakadilan gender yang dialami beberapa klien saya, namun mungkin dengan kadar dan situasi yang berbeda.

 Dulu, awal menjadi konselor psikologi, saya masih menjadi observer dan hanya membantu administrasi dan melihat bagaimana konseling dengan klien. Setelah beberapa lama, saya langsung dilepas menghandle klien dengan teman konselor hokum. Dari awal saya merasa gugup dan sangat berat bebannya, bagaimana tidak, mereka datang, menyempatkan waktu untuk berkeluh kesah dan berharap masalahnya bisa selesai dengan bertemu kita. Padahal, saya sendiri hidupnya tidak karuan. Banyak pembelajaran saya disana, salah satunya bagaimana bisa ready ketika ingin konseling. Dulu awal – awal menjadi konselor, hal yang paling sulit ditangani adalah menahan lapar dan perut keroncong yang hampir bunyi. Ditambah kalau kita sendiri, sebagai konselor sedang dilanda masalah. Percayalah tidak akan konsentrasi dengan cerita klien. Ternyata ya itu adalah bagian dari kita kita ready dan siap untuk bertemu klien. Saya belajar untuk siap secara lahir dan batin ketika bertemu klien. Kalau kita merasa akan lapar, makan dulu baru bertemu klien. Kalau merasa sedang galau, jangan bertemu klien. Aura negative itu menular. Atau ya memenangkan diri dulu kalau bisa, exhale inhale. Konselor juga manusia, bukan? 

Saya sendiri menganggap konselor itu seperti tong sampah yang bawahnya berlubang atau bolong. Tiap hari kami akan bertemu banyak klien, minimal 1 kalau banyak bisa 3 atau 4, dan mereka bercerita masalah kepada kita. Untuk itu, sebelum kita bertemu klien, tong kita harus kosong untuk diisi cerita mereka. Kalau tidak, ya membeludak, kita merasa beban. Makanya, kita perlu ada mekanisme pembuangan yang baik setelah konseling. Itu kenapa kita punya ruangan dengan meja bundar yang semua orangnya bisa saling berhadapan dan bertukar emosi atau untuk sekedar sharing kasus.

 Hal yang tak kalah penting adalah, jangan membawa masalah klien ketika pulang kantor. Kadang, banyak diantara kita merasa bertanggung jawab ketika menangani klien, seperti kita harus menyelesaikan masalah dia. Ketika kien belum menemukan titik temu, atau masih dalam masa denial, kita merasa gagal. Awal – awal menjadi konselor saya juga sering mengalami hal itu, merasa sangat bertanggung jawab dengan masalah klien, saya pikirkan sampai di rumah. Tapi itu tidak baik ternyata, konselor juga manusia. Saya belajar dari teman – teman di Divisi pendampingan, untuk kembali lagi pada prinsip konseling. Kami melakukan konseling bukan konsultasi. Kami memfasilitasi klien untuk mendapat pencerahan, bukan menuntun mereka mengambil keputusan. Kami memberikan pertimbangan – pertimbangan resiko dari setiap keputusan yang mereka ambil. Kami yakin bahwa mereka berdaya, mereka bisa menyelesaikan masalah mereka, namun sedang ruwet saja, dan kami memfasilitasi itu. Kami mendengarkan, menerima tanpa syarat tanpa menghakimi, membiarkan mereka percaya pada kita sepenuhnya. Selanjutnya sedikit memberikan pertanyaan atau pernyataan yang bisa memberikan mereka pencerahan, dan memberikan pertimbangan resiko dari segala keputusan mereka. Yang menentukan? Mereka sendiri. Kalau mereka tidak kunjung mendapat pencerahan? Itu bukan salah kita, para konselor. Klien punya waktu dan caranya sendiri untuk berproses, dia kita menghargai itu. Kalau mereka salah mengambil keputusan? Simpelnya kita sudah memberikan pertimbangan resiko menurut kita dan yang biasanya terjadi pada klien – klien lain, bila klien tetap pada keputusannya, tetap kita hargai. Klien punya waktu dan caranya sendiri untuk berproses, dan kita menghargai itu. 

Selain itu, hal yang tidak terbanyang menjadi konselor adalah mendengarkan cerita klien yang sebelumnya mungkin hanya ada di sinetron. Tapi itu nyata, terjadi pada perempuan – perempuan di Indonesia. Saya sering sekali mendapat klien, yang ketika datang ternyata sedang kabur dari rumah karena dipukuli oleh suaminya, atau yang mukanya babak belur baru saja di hajar oleh suaminya. Mereka biasanya masih dalam tahap krisis, dan beberapa menangis ketika dalam konseling. Bisa mungkin kita konseling 3 jam dan 1 jam klien habiskan untuk menangis. Hal pertama ketika lakukan ya menangani krisisnya. Kalau klien menangis, ya biarkan klien selesai menangis baru ditanya. Kalau klien babak belur, ya dibawa ke rumah sakit, minta pemeriksaan untuk ancang – ancang visum dan diobati. Setelah itu baru kita konseling lanjutan. 

Selain klien perempuan dewasa korban KDRT, saya juga sering mendapati klien remaja perempuan dan anak – anak. Untuk remaja perempuan biasanya mereka mendapatkan Kekerasan Dalam Pacaran, pelecehan seksual atau perkosaan. Beda kasus jelas beda penanganannya, kalau ibu – ibu korban kekerasan dalam rumah tangga, kadang dia datang sendiri ke kantor, klien punya keinginan untuk menerima bantuan kita. Membangun kepercayaannya pun tak sesulit klien – klien remaja. 

Rifka Annisa WCC memang membuka layanan outreach di beberapa daerah seperti Gunung Kidul, Kulonprogo dan Bantul, selain wilayah Yogyakarta kota sendiri. Kita “menjemput bola” atau menyambangi langsung ke rumah klien ketika klien terkendala jarak untuk bisa ke kantor, atau klien rujukan kepolisian setempat klien perkosaan dan pelecehan seksual. Kadang kami menyambangi rumah klien yang jaraknya bisa 3 jam sendiri dari kantor, untuk konseling dengan klien. Jalanan yang terjal dan menanjak, bahkan pernah tidak bisa dilewati mobil kantor, sehingga kita harus jalan. Kadang mual, ngantuk dijalan, sampai di rumah klien, kita harus siap untuk konseling. Ditambah lagi, klien tidak berniat menerima bantuan kita, mereka hanya dirujuk oleh kepolisian untuk bisa kami bantu. Untuk bisa membangun kepercayaan kepada klien jenis seperti ini sangatlah susah. Terlebih kliennya remaja yang masih mencari jati diri. Biasanya sekali datang hanya untuk berkenalan dan membangun kepercayaan saja. Tidak membicarakan masalah klien. Boro – boro membicarakan masalah klien, ada klien yang bahkan tidak mau menjawab pertanyaan kita obrolan biasa yang kita lontarkan. Sedangkan kita, kadang dituntut untuk bisa membantu kepolisian ketika BAP, agar klien mau jujur, dan membuat Hasil Pemeriksaan Psikologis jika hakim meminta ketika persidangan. 

Biasanya saya lakukan ketika mendapatkan klien remaja yang perkosaan atau pelecehan seksual, saya membawakan buku novel bertemakan Kekerasan Dalam Pacaran, buku diari, atau buku gambar. Kadang klien tidak mau bicara kepada kita karena kita asing bagi klien, untuk itu saya berusaha menjadi sahabat untuk mereka. Bertanya kehidupan sekolah mereka, hobi mereka, seperti mengobrol dengan teman, bukan klien. Bukankah prinsip konseling itu setara? Tidak ada yang lebih tinggi, kita tidak menggurui dan kami sama, setara. Ketika klienmu remaja, jadilah sahabat remaja itu, selami kehidupannya. Kadang kita merasa terlalu sepele, tapi itu yang dihadapi remaja. Kalau kita tidak bisa memahami mereka, bagaimana kita bisa membantu mereka. Lalu untuk apa buku novel, diari atau buku gambar? Karakteristik remaja biasanya tidak mau menceritakan masalah kepada orangtua atau orang yang lebih tua, ada yang memang pendiam. Jadi kami bawakan novel untuk mereka bisa membaca dan memahami sendiri bahwa mereka bukan satu – satunya yang mengalami hal tersebut. Mereka juga punya banyak orang yang akan membantu, termasuk kita. Kita biasanya memberikan diari untuk ketika klien tidak ada teman curhat bisa menulisnya di diari, kami tahu yang dialaminya tidak mudah dan klien tidak perlu memendamnya sendiri. 

Saya mencoba berkali – kali untuk bisa mengobrol dan dekat dengan klien – klien remaja, biasanya percobaan pertama selalu gagal. Namun ketika kita menanamkan bahwa kami akan membantu mereka, kami akan menjadi sahabat mereka, dan menerima mereka. Klien sedikit demi sedikit akan mulai percaya kepada kita. Ketika kita menggali cerita – cerita mereka pun, biasanya saya tidak pernah langsung menanyakan kejadian yang menimpa mereka, karena itu pasti sulit untuk mereka. Bayangkan kamu diperkosa atau dilecehkan secara seksual oleh orang yang kamu kenal atau yang tidak kamu kenal, kamu pasti akan merasa malu dan kotor. Luka yang dalam itu, siapa yang ingin membaginya. Diungkit lagi, berarti mereka membuka luka dan merasakan sakit kembali. Dan itu yang selalu coba untuk pahami. Walaupun luka bukan untuk ditutup kembali, namun disembuhkan. Namun, klien punya waktu dan caranya sendiri untuk berproses, dan kita menghargai itu. 

Biasanya saya, bertanya tentang kehidupan sekolah, teman, hobi mereka, sambil menyerempet ke kejadian. Begitu terus sampai mereka bisa terbuka kepada kita. Memang susah, tapi bukan tidak bisa. Biasanya kita bahkan bisa menggali penyebab dan pemicunya mengapa kejadian tersebut dapat terjadi. Beberapa karena keluarga yang kurang perhatian dan yang jelas bujuk rayu. Sampai sekarang klien – klien remaja saya masih akrab dengan saya, kami bertukar nomor hape setelah kasus terminasi. 

Kebahagiaan seorang konselor jelas ketika kliennya bisa berdaya dan menjalani kehidupan mereka tanpa jerat kekerasan. Selain itu mendapati klien bisa mendapat “AHA” moment saja membuat saya bahagia. Mungkin bagi klien, saya membantu mereka dalam masalah mereka. Tapi sebenarnya, saya yang belajar banyak dari klien – klien saya, mereka yang membantu saya. Konselor juga manusia, kami juga memiliki masalah – masalah walaupun dengan wujud yang berbeda. Namun, ketika saya konseling dengan mereka, saya merasa masalah saya tidak ada artinya dengan masalah mereka. Saya banyak bersyukur karenanya, tapi ini bukan berarti saya mengkasihani mereka. Saya merasa banyak sekali pelajaran dari mereka, klien – klien saya, bagaimana mereka bisa kuat, tapi juga lembut, bagaimana menghadapi masalah. Saya merasa beruntung menjadi konselor perempuan. 

Teruntuk teman – teman divisi pendampingan Rifka Annisa  WCC, teman berbagi, teman karaoke, teman makan, yang sudah saya anggap keluarga. Saya merasa sangat beruntung pernah berada di tengah kalian. You are always be my family. Tidak kata yang bisa saya sampaikan selain terima kasih. Terima kasih telah menerima saya dua tahun ini, berproses bersama, bersenang – senang bersama, sibuk bersama. Be part of DEPE is best things in my life. Maris akan tetap menjadi konselor perempuan dimanapun Maris berada 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Menuju Kilau Meliau: Sebuah Perjalanan menuju Desa Melawi Makmur, Kecamatan Meliau, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat

Pendidikan Hak Setiap Warga Negara? : Sebuah Potret Pendidikan di Desa Melawi Makmur, pedalaman Kalimantan Barat.

Penyesalan ?