Mengenal Suku Sasak dan tradisinya melalui Desa Sade, Lombok, Nusa Tenggara Barat
Tulisan terakhir dalam Lombok
Series kali ini ditutup manis dengan kenangan berkeliling Kampung Sade di Rambitan,
Pujut, Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Desa Sade yang merupakan Desa Tradisional ini memang kampung nya suku sasak, suku tradisional di Lombok. Masih sangat kental sekali tradisi, dan budaya budaya luhur yang mereka pegang, bahkan bangunan rumah – rumahnya pun masih sangat tradisional, tidak banyak berubah mengikuti zaman.
Lokasi Kampung Sade ini sebenarnya bukan yang sangat terpencil atau terpelosok, berada di pinggir jalan besar di Desa Rambitan, Pujut, Lombok. Dari kejauhan sudah terlihat Gapura mirip atap rumah khas Lombok.
Untuk masuk dan berkeliling
ke Desa Sade ini memang tidak ada tiket masuknya alias gratis, tapi seingat
saya ada kotak amal yang bisa kita masukkan sedikit uang untuk pembenahan dan
kas desa ini.
Untuk berkeliling Desa Sade ini
ada beberapa pilihan, bisa berkeliling sendiri, atau juga bisa menggunakan
local guide untuk menemani berkeliling. Beberapa warga lokal di Desa Sade ini biasanya
menawarkan diri menjadi guide untuk menemani berkeliling. Waktu itu pun saya
memilih untuk menggunakan guide warga lokal disana, selain bisa lebih jelas rute berkelilingya, juga sekedar bantu perekonomian
warga disana.
Tidak memerlukan waktu yang lama sebenarnya untuk berkeliling Desa Sade ini, karena memang luas tanahnya yang hanya 5.5 hektar, dengan bangunan tradisional kurang lebih 150 buah.
Waktu itu, saya diajak berkeliling
melihat lihat rumah tradisional suku sasak ini, kesan pertama yang dapatkan,
sungguh sejuk sekali. Bangunan rumah yang ada di Desa Sade ini khas bangunan
tradisional sasak. Atapnya menggunakan rumbai kering, dengan tiang menggunakan
kayu, dan dinding – dindingnya menggunakan ayaman bambu, lantainya pun tidak
mengunakan keramik apalagi vinyl. Lantai rumah tradisional disana menggunakan
campuran tanah liat dan sekam padi. Tapi jangan kira, tipikal rumah tradisional
mereka ini ternyata termasuk rumah yang tahan gempa, terbukti dari gempa Lombok
yang juga mengguncang Desa Sade, bangunan disana masih tetap kokoh berdiri.
Bangunan rumah tradisional disana
juga terbagi menjadi 3 jenis, sesuai peruntukannya. Ada Bale Bonter, Bale
Kodong, dan Bale Tani. Bale Bonter, bisanya jenis bangunan untuk tempat tinggal para pejabat
atau pemangku adat desa. Selanjutnya Bale Kodong, biasanya digunakan untuk
tempat tinggal pasangan yang baru menikah dan orangtua yang hanya tinggal
menghabiskan masa tua. Terakhir, Bale Tani, biasanya digunakan untuk tempat
tinggal keluarga atau pasangan yang sudah memiliki anak. Saya pun sempat melihat
salah satu diantaranya, kalau tidak salah ingat Bale Tani. Waktu itu pemilik
rumahnya sedang ada di depan rumah.
Yang membuat unik lagi, perawatan lantai rumah tradisional disana menggunakan kotoran kerbau. Iya kotoran kerbau. Tapi tidak ada bau menyengat yang saya cium waktu itu, aman. Tiap beberapa minggu atau saat mendekati upacara adat, warga disana biasanya mencampurkan kotoran kerbau dengan sedikit air untuk membersihkan lantai. Setelah kering, mereka akan menggosok menggunakan batu atau sapu. Menurut mereka hal ini mereka lakukan untuk mengurangi serangga dan nyamuk di rumah.
Setelah puas melihat – lihat bangunan
rumah tradisional, saya juga melihat – lihat kain yang dijual disana, tidak
dipungkiri sebenarnya ini alasan saya mengunjungi Desa Sade, untuk berburu kain
langsung di tempat membuatnya. Harga nya memang mahal dibanding yang dijual di pantai
– pantai, jelas karena ini kain tenun yang langsung ditenun manual dari
penenenun perempuan disana, sedangkan di pantai buatan pabrik saya kira.
Kualitasnya pun berbeda, historinya apalagi.
Kain tenun yang biasa dijual di Desa Sasak adalah Tenun Sesek khas Suku Sasak, bisanya membutuhkan waktu 2 minggu hingga 6 minggu untuk menyelesaikan satu tenun sasak, tergantung besar kecilnya kain dan kerumitan pola kainnya.
Saya sempat mencoba dan diajari sebentar untuk menenun dengan salah seorang penenun paruh baya disana. Menyenangkan sekali, walaupun tidak lama saya pun menyerah, mirip merajut tapi dengan alat yang lebih besar dan lebih rumit. Menurut budaya mereka, untuk seorang perempuan kemampuan menenun adalah kemampuan dasar. Bahkan untuk seorang perempuan disana, harus dapat menenun dulu baru boleh menikah. Bersyukur juga saya bukan warga sana.
Selain budaya menenun bagi
perempuan, di Lombok juga ada tradisi perkawainan yang cukup unik yaitu tradisi
“Kawin Lari” yang juga masih sangat kental di Suku Sasak ini. Adat ini
cukup unik karena, Ketika sepasang
sejoli perempuan dan laki – laki ingin menikah, tidak seperti adat lain yang
melamar ke rumah sang perempuan, melainkan berjanjian untuk mengajak lari sang
perempuan. Kalau langsung melamar langsung bahkan dianggap melanggar adat dan menjadi
bahan omongan dan gosip - gosip tetangga. Untuk itu, biasanya mereka berjanjian
dulu malamnya untuk “menculik” sang
perempuan dan membawanya ke rumah salah satu teman mempelai laki - laki
atau tempat yang ditentukan tanpa sepengetahuan orangtua perempuan. Setelah
3 (tiga) hari, pihak keluarga laki – laki akan datang dan meminta izin dan restu
kepada keluarga perempuan. Setelah sekitar satu minggu, barulah mereka akan
menikah.
Cukup unik, walaupun kenyataannya
budaya seperti ini merugikan perempuan menurut saya. Pada kenyataannya pun, tidak
sedikit kasus dengan dalih tradisi kawin lari ini, laki – laki banyak yang mencoba
“menculik” perempuan yang disuka agar dapat dinikahi, tanpa persetujuan sang
perempuan, namun karena adat tetap harus menikah.
Tapi namanya juga adat dan tradisi, konstruksi nya memang cukup patriarki bukan?
Saya harap tidak banyak kasus
yang terjadi yang akhirnya juga merugikan perempuan.
Terlepas dari itu semua, sangat menarik sekali budaya, tradisi dan keindahan Lombok yang tidak hanya menyegarkan mata tapi juga jiwa saya.
Terimakasih Lombok :)
Mungkin kalian bosan dengan baju yang tidak pernah ganti disemua tulisan tentang Lombok, karena memang trip ini sangat spontan dan baju yang tersisa hanya itu, jadi mohon dipahami. Hehehe
Masih banyak bucket list saya
untuk dikunjungi ketika nanti akan mengunjungi Lombok lagi. Masih ada Gunung
Rinjani, The Gili Island, dan beragam air terjun di Lombok yang belum sempat saya
kunjungi. Semoga Tuhan memberi waktu dan tabungan yang cukup untuk saya bisa kesana
lagi.
Masih ada beberapa tulisan tentang tempat tempat yang berkesan yang saya kunjungi, saya tidak bisa berjanji untuk menuliskannya dengan cepat. Tapi sepertinya, sejak pandemi dan era WFH 2.0, menulis menjadi salah satu ajang saya bernostalgia dengan perasaan bahagia ke tempat tempat indah bonus belajar budaya serta makna makna yang saya ambil dalam hidup.









Komentar
Posting Komentar