Menemukan Ketenangan dari Sebuah Kelapa Muda di Pantai Mawun, Lombok, NTB

Menulis pengalaman mengunjungi pantai - pantai elok di Lombok sebenarnya salah satu cara saya mengobati kerinduan saya pada Laut, Pantai, dan Hembusan angin serta Bau Khas yang menyertainya.




Masih menyambung perjalanan saya di Lombok dan Pantai Selong Belanak sebelumnya, saya melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya yaitu ke Pantai Mawun. Perjalanan tidak terlalu jauh dari Pantai Selong Belanak, waktu itu hanya ditempuh perjalanan sekitar 17 – 20 menit untuk menuju Pantai Mawun. Ketika saya kesana, Pantai Mawun tidak ada biaya masuk atau tiket masuknya, hanya biaya parkir saja, waktu itu untuk biaya parkir mobil hanya Rp. 10.000,- saja.

Pantai Mawun, pantai yang saya pikir biasa saja, tapi ternyata ini tipikal pantai yang saya membuat saya jatuh cinta di pertama saya melihatnya.

Pantai Mawun ini, sebenarnya bagian dari teluk yang lokasinya di Lombok bagian selatan. Walau tidak sepanjang Pantai Selong Belanak, tapi garis pantai dari Pantai Mawun cukup unik, seperti tapal kuda apabila dilihat dari jauh, dan yang jelas pantai cukup teduh dan menenangkan menurut saya. Terdapat bukit yang cukup membuah indah juga, dan waktu saya datang masih menghijau. Berbeda dengan Pantai Selong Belanak yang ketika datang masih cukup sepi, Pantai Mawun ini sudah ada beberapa pengunjung warga asing yang sudah terlebih dahulu di pantai ini. Mungkin hanya 4 (empat) orang, beberapa bermain air, dan sisanya berjemur di pinggir pantai. Di pinggir – pinggir dan sekitaran pantai ini juga cukup banyak anjing berkeliaran waktu itu, tapi tidak sampai di area pasir waktu itu.


Ombak pantai ini sebenarnya cukup besar di bagian tengah, dibanding di sisi barat maupun timur, karena bagian tengah langsung berhadapan dengan Samudera Hindia. Mungkin kalau ada yang mau berenang di Pantai Mawun ini, bisa dibagian barat atau timur  yang lebih aman, dan yang perlu diwaspadai sebenarnya di Pantai ini tidak ada penjaga pantainya. Jadi ya harus waspada sendiri jika ingin berenang atau bermain air. Selain itu, bagian sisi barat dan timur Pantai Mawun, dihapit bukit – bukit yang menghijau tadi, Bukit Pengolo dan Bukit Nettem Namanya, seperti gerbang kalau kata beberapa orang.


Saya sempat ditawari untuk berenang atau bermain air oleh Mas Eddy, tapi saya enggan, selain malas berganti baju, saya lebih senang menikmati pantai dengan duduk - duduk dan menikmati udara dan suasana yang menyenangkan. Saya lama sekali di pantai ini, Mas Eddy juga sempat meninggalkan saya sendiri, melihat dari kejauhan sepertinya. Saya sempat memesan kelapa muda dan menikmatinya di pantai sambil memandang pantai, bukit dan manusia manusia yang sedang berenang di pantai. Saya rasa ini hal yang patut disyukuri, saya bisa menenangkan pikiran dan menikmati alam yang sungguh indah diciptakan Tuhan.



Setelah cukup lama di pantai dan menikmati kelapa muda dan kepanasan tentunya, saya bergeser ke pinggir pantai, dibawah pohon rindang, di belakang perahu milik nelayan. Saya kembali menikmati pantai ini, dan asyik dengan diri sendiri sambil menghabiskan sisa kelapa muda. 





Tiba - tiba anak – anak penjual gelang menghampiri saya, tidak hanya satu tapi banyak sekali, hampir 10 mungkin, dan semuanya anak – anak. Saya kasian dan setengah miris sebenarnya, mereka anak – anak bukannya seharusnya belajar dan bermain saja, kenapa harus berjualan dan mencari nafkah. Fenomena ini sepertinya cukup asyik dibahas dalam satu tulisan terpisah, ini juga menjadi fokus dalam pekerjaan saya waktu itu sebenarnya.


Singkat cerita, saya juga mengajak anak – anak ini mengobrol, walau ada beberapa yang memang menyebalkan dan mengganggu wisatawan menikmati pantai, tapi kepolosan anak – anak selalu membuat saya senyam – senyum. Saya beberapa kali bercanda dengan mereka, dan tentunya akhirnya membeli beberapa dagangan mereka. Inginnya membeli satu – satu dagangan mereka, agar merata dan tidak saling cemburu, tapi ya untuk apa saya membeli banyak, tidak mungkin satu kantor saya bagi gelang, bukan. Sampai sekarang gelangnya, masih saya pakai, entah karena malas melepas atau memori  indahnya yang tidak ingin dilupakan.


Sebenarnya, pantai ini juga bisa digunakan untuk snorkeling tapi dengan peralatan pribadi tentunya. Mungkin lain kali, kalau saya bisa kembali ke Mawun ini, bisa juga dicoba menikmati pantai dengan mendaki bukit – bukit tadi, dan melihat pemandangan Samudera Hindia, sambil merasakan hembusan angin. Tapi rasanya, menyendiri dan menikmati pantai ini dengan duduk duduk dan menenggelamkan diri pada pikiran – pikiran sendiri sudah cukup membuat saya senang dan tenang, bonus dapat foto yang cukup bagus dari tangan hebat Mas Eddy.


Masih ada beberapa tulisan tentang pantai dan bukit dari Lombok, tapi sudah cukup panjang tulisan ini, sepertinya akan disambung di tulisan berikutnya.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Menuju Kilau Meliau: Sebuah Perjalanan menuju Desa Melawi Makmur, Kecamatan Meliau, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat

Pendidikan Hak Setiap Warga Negara? : Sebuah Potret Pendidikan di Desa Melawi Makmur, pedalaman Kalimantan Barat.

Penyesalan ?