Pantai Tanjung Aan dan Bukit Merese Lombok, NTB: Keindahan Mana Lagi yang Kau Dustakan

 


Menulis tentang pantai dan bukit indah di Lombok tidak akan pernah ada habisnya, eloknya valid saya kira, siapa yang menolak mengatakan Pantai di Lombok salah satu yang terbaik dan sangat memanjakan mata maupun kamera.

Salah satu pantai di Lombok yang saya kagumi keindahannya adalah Pantai Tanjung Aan yang satu paket dengan Bukit Merese, karena memang sebelahan saja. Walau bukan tipikal pantai yang menenangkan seperti Pantai Mawun yang membekas untuk saya, Pantai Tanjung Aan ini indahnya mutlak. Pantainya yang putih, Air Laut nya yang biru bergradasi, dan jajaran bukit yang menghijau mengelilingi pantai tersebut.


Pantai Tanjung Aan menurut saya, salah satu pantai yang wajib dikunjungi apabila ke Lombok, walaupun jaraknya dari Mataram bisa menempuh 1,5 jam perjalanan, tapi sangat worth to visit. Untuk tiket masuk Pantai Tanjung Aan ini, seperti pantai – pantai lain, tidak ada, hanya parkir mobil saja sebesar Rp. 10.000,.

Pantai Tanjung Aan ini memiliki garis pantai sepanjang 2 km, cukup panjang dan puas untuk pengunjung berkeliling dan menikmati keindahannya. Pantai ini juga langsung berhadapan dengan Samudera Hindia, seperti Pantai Mawun. Namun ombaknya relatif tenang dan kedalamannya cukup dangkal, sangat pas untuk berenang atau sekedar bermain air disana.


Waktu saya mengunjungi Pantai Tanjung Aan ini kebetulan saat siang hari yang panasnya luar biasa, namun tertolong dengan awan dan langit yang indah. Namun bukankah ke pantai memang waktunya bercumbu dengan matahari. Yang patut disyukuri, tidak perlu banyak filter untuk mengabadikan keindahan pantai ini di siang hari. Apa yang terlihat di mata, tak jauh beda dengan yang tertangkap di kamera, sungguh indah.

Di Pantai Tanjung Aan ini memang sudah cukup banyak fasilitas, sejauh mata memandang banyak kursi kursi bersantai yang berjejer untuk menikmati pantai ini. Yang paling menarik, banyak ayunan yang berada di pinggir pantai, khas pantai Lombok saya kira, apabila air laut pasang, kita bisa berfoto di ayunan dengan dengan air laut dibawahnya. Salah satu spot foto yang tidak mungkin di lewatkan oleh orang yang berkunjung, termasuk saya. 


Yang cukup unik dari Pantai Tanjung Aan ini, pasir pantainya yang tidak hanya putih, tapi juga berbentuk bulat seperti merica. Belum pernah saya coba sebenarnya rasanya, tapi saya pikir rasanya tetap seperti garam, bukan merica.

Selain bermain air, di pantai Tanjung Aan ini juga sebenarnya bisa snorkeling dan sudah banyak yang akan menawari untuk paket snorkeling ini juga sebenarnya. Sayang sekali waktu itu, saya berniat untuk lanjut ke bukit merese jadi tidak sempat menjajal bersnorkeling disana.


Tak jauh dari Pantai Tanjung Aan, cukup  berjalan kaki  5 menit kita bisa ke Bukit Merese, tapi ya namanya juga mendaki bukit, tentu tidak cukup dengan 5 menit saja. Tidak telalu tinggi memang, tapi namanya juga bukit tentu menanjak dan berbatu. Disarankan untuk menggunakan alas kaki yang cukup proper menurut saya. Waktu itu, saya juga berganti menggunakan sepatu, daripada sandal pantai saya yang rusak atau saya yang jatuh. Tapi usaha mendaki bukit dengan jalan setapak dan berliku ini, sungguh terbayar lunas dengan pemandangan yang luar biasa indah.


Tak heran, Bukit Merese ini dikatakan Bukit Cinta karena siapa saja yang mendaki bukit ini sampai atas, menikmati pemandangan dan hembusan anginnya pasti jatuh cinta. Begitupun saya, bukit ini membuat saya jatuh cinta dari sejak saya sampai di puncak. Bisa melihat Pantai Tanjung Aan dan deretan bukit lain dari atas, Samudera Hindia sejauh mata memandang. Biru nya laut dan langit yang terlihat menyatu, bukit yang menghijau yang mengelilinginya, hembusan angin, dan bau khas laut yang menyertainya. Sungguh nikmat mana lagi yang kau dustakan. Could be more grateful than this.


Mungkin lain kali, kalau saya diberi takdir untuk datang kembali kesini, saya ingin mencoba datang saat pagi atau sore untuk merasakan Sunset atau Sunrise di atas bukit ini. Melihat Matahari terbenam maupun muncul dari atas bukit ini memang pilihan yang tepat saya kira. Melihat birunya laut, hijaunya bukit, dan langit yang didominasi mega oranye kemerahan, kombinasi luar bisa sekali.  Atau mencoba bukit lain disebelahnya yang lebih tinggi. Sungguh menyenangkan hanya dengan membayangkannya saja.

Mungkin tips bagi beberapa teman yang akan datang kemari, untuk tidak datang saat musim hujan, karena akan sangat licin, dan rawan kehujanan tentunya. Bulan yang cukup bagus untuk datang ke Bukit ini mungkin di Bulan Februari – April saya kira, saat bukit sedang menghijau indah seperti yang saya lihat. Kalau beruntung, biasanya juga banyak kerbau di Bukit Merese ini, tapi jangan harap dapat naik kerbau untuk turun bukit, kasian kerbaunya.

Beberapa pengunjung juga bisa berkemah diatas bukit ini, dengan peralatan pribadi tentunya, cukup menyenangkan, tidur dengan atap langit bertabur bintang dan disambut pagi dengan hembusan angin dan suara laut yang menenangkan. Bisa dijadikan agenda kunjungan selanjutnya sepertinya.


Walaupun saya datang di Bulan Februari, tapi sayang sekali sudah ketinggalan untuk menyaksikan “Festival Ritual Bau Nyale”, sudah lewat beberapa minggu sebelumnya, sekitar tanggal 10 – 17 Februari kata Mas Eddy. Ritual ini cukup menarik menurut saya, berhubungan dengan Puteri Mandalika, mitos masyarakat di Lombok. Mas Eddy menceritakan mitos Puteri Mandalika ini sebagai puteri yang cantik, cerdas dan digambarkan sempurna sehingga  di perebutkan oleh banyak pangeran sehingga terjadi banyak pertempuran. Tidak dapat menentukan pilihan, akhirnya Puteri Mandalika melompat dari bukit untuk menghindari kejaran pangeran  yang berniat mempersuntingnya. Mitosnya, Puteri Mandalika ini bereinkarnasi menjadi “Nyale” atau cacing laut. Memang pada musim – musim tertentu cacing laut ini akan muncul, dan diburu masyarakat untuk dijadikan beberapa masakan. Beberapa warga menganggap Nyale atau cacing laut ini berhubungan dengan kesejahteraan dan keselamatan.

Mereflesikan mitos Puteri Mandalika, ternyata menjadi cantik dan sempurna bisa menjadi malapetaka juga, bersyukur saya yang biasa – biasanya saja ini. Cukup Orangtua, kakak, dan (calon) pasangan saja yang mengakui saya cantik. Sudah cukup.

 Next bucketlist pantai di Lombok, tentunya The Gili Island : Gili Trawangan, Gili Meno, maupun Gili Air. Sepertinya menyenangkan bersepeda di pinggir pantai sambil menikmati hembusan angin. Mari menabung dan berdoa semoga pandemi segera mereda, siapa yang tak rindu travelling dengan bebas, bukan?   

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Menuju Kilau Meliau: Sebuah Perjalanan menuju Desa Melawi Makmur, Kecamatan Meliau, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat

Pendidikan Hak Setiap Warga Negara? : Sebuah Potret Pendidikan di Desa Melawi Makmur, pedalaman Kalimantan Barat.

Penyesalan ?